Baju Renang Muslim Yang Menjadi Kontroversi

Tentu anda sering mendengar tentang bikini, yaitu dua potong baju renang wanita dengan bagian atasan dan bawahan. Lalu tahukah anda apakah itu burkini? Burkini merupakan baju renang Muslim yang menjadi kontroversi, didesain oleh desainer Australia Aheda Zanetti. Baju renang yang menutup hampir seluruh tubuh kecuali muka, tangan dan kaki ini mulai popular dipakai oleh kalangan muslim di bagian Eropa, Australia dan bahkan Indonesia yang merupakan salah satu Negara mayoritas muslim terbesar di dunia.

Meskipun menutup seluruh tubuh, baju renang ini tetap memakai bahan yang ringan sehingga tetap nyaman dipakai untuk berenang. Baru-baru ini seorang putri kecantikan di Negara bagian Minnesota, Amerika Serikat, Halima Aden yang berumur 19 tahun mencatat sejarah dan sekaligus membuat heboh sebagian besar warga dunia karena dia memakai burkini dan hijab untuk kontes kecantikan. Sebagai seorang muslim, Halima tetap berupaya menggunakan pakaian sopan. Keputusannya itu membuat beberapa orang bereaksi negatif dan terang-terangan tidak menyukai gagasannya untuk memakai burkini di kontes kecantikan. Meskipun begitu, sebagian besar kalangan tetap mendukungnya dalam kontes tersebut.

“Saya belajar ketika seseorang bertahan dengan apa yang ia percaya, maka ia akan mendapat banyak dukungan”, ucap Halima Aden ketika ditanya tentang keputusannya memakai burkini dan hijab dalam kontes, “Kebanyakan orang berkata, kenapa kami harus mengubah aturan demi kamu? Kenapa kamu tidak bisa mengikuti aturan?” jelasnya ketika ditanya tentang hal negatif yang sering ia dengar.

Selain di Amerika serikat, ternyata baju renang burkini telah membuat kontroversi di beberapa Negara. Seperti Prancis yang kini melarang pemakaian burkini untuk wanita. Pada tahun 2009, seorang wanita di Prancis dilarang masuk ke dalam sebuah kolam renang karena memakai burkini dan pada tahun 2016, Walikota Cannes melarang pemakaian burkini karena berkaitan dengan pergerakan Muslim ekstremis semenjak kejadian teror yang sering terjadi di Prancis. Setidaknya beberapa wanita dikenakan sanksi berupa denda oleh pihak kepolisian Prancis dan juga kecaman dari beberapa orang yang berada di tempat kejadian. Negara Maroko, yang merupakan bekas jajahan Prancis, juga melarang penggunaan burkini di beberapa hotel dan kolam pribadi. Sama halnya dengan Belgia, Mesir dan Rusia yang juga melarang pemakaian burkini di beberapa wilayahnya.

Meskipun burkini identik dengan muslim, yang mempunyai kewajiban untuk memakai pakaian tertutup bagi wanita, ternyata penjualan burkini tidak hanya untuk kalangan muslim saja. Banyak juga wanita non-muslim yang membeli burkini. Zanetti, desainer burkini, mengestimasi sekitar 40% pembeli burkini berasal dari kalangan non-muslim. “kami menjual pada kalangan Yahudi, Hindu, Kristen, Mormons,  dan wanita yang memiliki isu dengan bentuk tubuh mereka. Bahkan beberapa pria memesan juga”, ungkap Zanetti. Pemakaian burkini seharusnya tidak menjadi isu keagamaan dan tidak menjadi ancaman bagi masyarakat dunia. Seorang aktivis feminis, Akeela Ahmad menyatakan, “Seorang wanita muslim memiliki hak untuk memakai pakaian yang sesuai untuk mereka. Kita harus meminta kesetaraan untuk wanita muslim”.

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Burkini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *