Mengenal Pengrajin Tas Rotan Bulat Yang Mendunia

Sebuah tas berbentuk bulat berbahan dasar rotan tiba-tiba saja menarik perhatian. Modelnya yang sederhana itu ternyata berhasil membuatnya mendunia serta digunakan banyak selebriti papan atas hingga fashion blogger luar negeri. Pada musim panas 2017 silam, tas rotan bulat ini bahkan telah jadi signature style para seleb seperti Raisa Andriana. Orang-orang banyak yang menyukainya karena tas ini bisa dengan mudah dipadukan bersama baju apa saja. Rok pensil, rok maxi, celana pendek hingga jeans panjang akan sama-sama tampak spektakuler dengan tambahan tas rotan ini di bahu. Di Bali, tas rotan ini bisa dengan mudah kita temukan di Pasar Ubud serta pusat oleh-oleh. Melihat pamornya, sebenarnya seperti apa gerangan proses produksinya?

Produksi tas rotan bulat Jogja ini ternyata tidak dilakukan di pabrik besar. Sang pengrajin, Pawardi, menempati rumah kos di Jl. Gumilir No.16 di mana transaksi kerap terjadi. Pembeli biasanya akan memesan tas rotan buatannya untuk kemudian dijual di berbagai art shop Bali. Tak jarang pula tas-tas tersebut dikirim ke luar negeri selama ada pesanan. Pawardi sendiri berasal dari Desa Landah, NTB, serta telah mulai menekuni bidang kerajinan anyaman sejak 1966. Bahan yang digunakannya adalah pohon ate serta rotan, dua material yang dulunya umum digunakan sebagai alas piring maupun gelas.

Pawardi kemudian pindah ke Bali di tahun 1998 guna mengembangkan usaha kerajinan rotannya. Dari alas piring serta gelas, ia kemudian membuat tempat tisu hingga tas bundar. Model baru tas bundar yang dibuatnya ternyata jadi favorit pembeli baik dari dalam maupun luar negeri. Kewalahan memenuhi banyaknya pesanan, Pawardi lalu membayar orang-orang di Lombok untuk turut menganyam tas bulat tersebut. Warga Lombok Tengah sendiri rata-rata bermatapencaharian sebagai petani. Saat musim kemarau atau ketika menunggu masa panen, warga setempat akan menghabiskan waktunya membuat tas anyaman dari rotan maupun pohon ate ini. Dari Lombok, tas-tas rotan ini kemudian dikirim ke Bali. Tiap harinya, Pawardi mengaku dapat menerima kiriman antara 500 sampai 1000 tas asal Lombok.

Proses pembuatan tas wanita unik ini sendiri diawali dengan membelah rotan atau ate yang digunakan agar ukurannya lebih kecil. Kemudian, material tersebut akan dibersihkan terlebih dahulu dan dianyam sesuai variasi motifnya masing-masing. Lamanya waktu pengerjaan akan tergantung dari motif pada anyaman. Dalam satu hari bisa saja hanya satu tas yang selesai mengingat lamanya waktu penganyaman. Tas bulat kemudian dipercantik menggunakan ragam bubuk warna permanen kemudian dijemur selama beberapa jam. Selanjutnya, akan dipasangkan corak kain dengan lem kuning lalu dijahit supaya kuat. Langkah terakhir adalah menambahkan tali tas dari kulit sapi. Penambahan tali ini akan membuatnya makin menarik.

Tas-tas ini berukuran antara 12 sampai 25 cm. Pembeli akan menjual dengan harga berbeda-beda. Di toko barang-barang kerajinan, harganya antara Rp120.000 sampai Rp150.000. Dari tangan-tangan pembeli inilah tas rotan Pawardi dapat menembus pasar internasional hingga Jepang, Eropa dan Kanada. Padahal, Pawardi sendiri hanya memasarkannya di Bali saja. Namun saat ditanya berapa keuntungan yang ia dapat dari penjualan tas rotan bulat itu, Pawardi mengakui keuntungannya tak terlalu bagus. Alasannya, bahan bakunya mahal. Seikat rotan dihargai Rp45.000 dan harus didapat dari Sumatra, Kalimantan hingga Flores. Itulah rekomendasi tas wanita unik yang bisa kita temukan di pasaran dengan mudah dan murah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *