Busana Pesta dari Kain Lurik Hasil Karya Anak Bangsa

Foto : Pinterest)

Beberapa waktu lalu terselenggarakan acara tahunan yang menjadi acara wajib pada seniman, pengusanan, dan penggemar fesyen. Jakarta Fashion Week. Di dalam acara tersebut diperagakan berbagai hasil karya perancang busana Indonesia. Berbagai hasil karya dipamerkan, tidak sedikit hasil-hasil karya tersebut kental akan budaya Indonesia. Seperti kain dengan berbagai tutorial rok lilit yang dikenakan sebagai bawahan busana pesta serta tentunya busana atasan berbahan asli traditional Indonesia.

Cek lebih lanjut mengenai cara-cara menggunakan kain lilit di https://review.bukalapak.com/fashion/5-cara-pakai-kain-lilit-yang-mudah-dan-sesuai-dengan-bentuk-tubuhmu-4830

( Foto : Dewi Magazine )


Salah satu perancang busana yang menarik perhatian dan mencari tujuan para pengunjung adalah Lulu Lutfilabibi. Perancang busana yang sudah memiliki banyak follower di Instagram telah memberikan terobosan baru dalam memanfaatkan kain lurik menjadi busana yang beda. Berasal dan berlokasi sampai saat ini di Yogyakarta tidak menjadi halangan para penggemar untuk membeli hasil karyanya secara langsung.

Kata lurik sendiri berasal dari bahasa Jawa, lorek yang berarti garis garis, yang dikenal sebagai lambang kesederhanaan. Hal ini menggambarkan kesederhaan dalam penampilan, perbuatan, namun tetap memiliki makna yang besar. Kain ini selain digunakan sebagai penutup tubuh, juga digunakan untuk ritual keagamaan. Namun sayangnya saat ini pengguna kain lurik semakin jarang, sehingga pengrajinnya pun semakin lama semakin hilang.

Menurut Ensiklopedia Nasional Indonesia (1997) lurik merupakan kain hasil tenunan benang yang berasal dari daerah Jawa Tengah dengan motif dasar garis-garis atau kotak-kotak dengan warna-warna suram yang pada umumnya diselingi aneka warna benang.

Kata lurik berasal dari kata rik, yang artinya garis atau parit dan memiliki makna sebagai pagar atau pelindung bagi pemakainya. Motifnya memang hanya berupa garis-garis, namun ternyata variasinya sangat banyak. Benerapa variasinya antara lain : corak klenting kuning, sodo sakler, lasem, tuluh watu, lompong keli, kinanti, kembang telo, kembang mindi, melati secontong, ketan ireng, ketan salak, dom ndlesep, loro-pat, kembang bayam, jaran dawuk, kijing miring, kunang sekebon, dan sebagainya.

Lulu Lutfilabibi sebagai perancang busana yang berhasil membuat orang-orang memberi perhatian kembali ke kain lurik, telah mendapatkan beberapa penghargaan di luar negeri. Mayoritas produknya merupakan busana yang ready to wear. Walaupun dapat digunakan secara kasual beberapa penggemarnya seringkali menggunakan hasil karyanya menjadi busana pesta.

Meski sebenarnya tidak berniat menargetkan pasar busana muslim, Namun ternyata 55% dari pemakai labelnya adalah mereka yang berbusana muslim. Hal tersebut bisa jadi dikarenakan baju-bajunya sebagian besar all size, cenderung longgar, dan cocok untuk dilapis. Beberapa baju yang potongannya terbuka pun bisa mereka dikombinasikan dengan baju dalaman.

Sebagai juara pertama di ajang LPM 2011,ia mendapatkan beasiswa untuk belajar di The Fashion Institute of Design & Merchandising, Los Angeles, selama tiga bulan. Di ajang, Lulu menggabungkan batik kontemporer, lurik Yogyakarta, sarung goyor Klaten, dan tenun ikat Jepara.

Dengan hasil karya anak bangsa yang mengangkat kain asli traditional Indonesia menimbulkan trend baru di kalangan masyarakat dalam menggunakan busana pesta. Untuk mendapatkan koleksinya secara online cukup sulit, karena selain hanya sedikit online fashion store yang menjualnya, juga koleksinya cepat sekali sold out. Lebih baik langsung mendatangi lokasi rumah sekaligus butik Lulu Lutfilabibi yang berada di Kota Gede Yogyakarta, tepatnya di Gang Kampung Pekaten No. 858 A Prenggan. Table 3 Ac

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *